Semanis Permen



Sabtu, 1 Januari 2012

Senja. Bayangan itu masih membekas juga. Suaranya, dentingan indah dari gitarnya, terutama wajahnya. Sangat memesona. Semua bermula dari hari itu. Dentingan indah itu jelas terdengar di telingaku. Membuatku bertanya-tanya, siapakah pemilik suara indah itu?. 

Dan akupun menemukanya, di kelas itu, gadis cantik itu sedang asyik memetik gitarnya dan bernyanyi dengan begitu merdunya. Oh… Tuhan, apakah aku sedang jatuh cinta?.

Senin, 3 Januari 2012

Gadis cantik itu Melodi namanya. Aku tahu dari teman sekelasnya. Dia baik, cantik, jago main gitar, suaranya merdu pula, lengkap sudah. Setiap istirahat Melodi suka bermain gitar sendiri didalam kelasnya, atau terkadang bersama teman-temannya. Dan setiap istirahat itu pula, aku tak pernah beranjak dari belakang kelasnya. Sekedar untuk mendengar suaranya, dan melihat wajah cantiknya, Melodi… Melodi… kapan kau bisa menjadi milikku.

Senin, 7 Januari 2012

Tambah hari rasanya aku tambah dekat saja denganya, awalnya hanya bertukar nomer telepon dan bertukar alamat Facebook tapi kemudian kami jadi sering sms-an dan chatting-an. Bahkan sekarang aku sudah berani masuk kedalam kelasnya, bermain gitar berdua denganya, atau bahkan berbicara empat mata denganya. Oh… indahnya dunia.

Selasa, 18 Januari 2012

Siang itu, sepulang sekolah. Aku memutuskan untuk mengatakan perasaanku kepadanya. Perasan yang sudah lama aku simpan didalam hatiku. Hingga akhirnya kata-kata itu mengalir begitu saja, mengalir dengan begitu indahnya. Ya, akhirnya aku berhasil menjadi kekasihnya. Kekasih Melodi.

Sabtu, 17 Februari 2012

Sekarang tak ada lagi dentingan dan suara indah itu, yang ada hanyalah lantunan al-Qur’an dari musholla itu. Melodi sudah banyak berubah sekarang ia lebih suka menyendiri, ia lebih memilih membaca Al-Qur’an itu dari pada bernyanyi bersamaku. Awalnya aku pikir biasa saja, tapi ternyata ia semakin keterlaluan. Mulai dari memanjangkan roknya lah, memakai kerudung lah, sok alim!. Bahkan yang lebih keterlaluan, ia lebih memilih ikut pengajian dari pada pergi ke bioskop bersamaku. Biar dapat pahala katanya! Lucu kan…??.

Kamis, 20 April 2012

Melodi sudah benar-benar berubah. Tadi pagi ia mengajakku putus. Katanya kita bukan mahrom, tidak pantas berhubungan. Harus diikat tali pernikahan terlebih dahulu. Ah… yang benar saja! Apa dia sudah kemasukan doktrin-doktrin Islam radikal itu?.

Senin, 19 Desember 2012

Setelah membaca lembaran demi lembaran diari ini, aku merasa merindukanya. Terlalu banyak kenangan yang tertulis di buku ini. Semenjak kejadian delapan bulan yang lalu itu Melodi tak pernah terlihat lagi. Dia mondok di Jawa Tengah. Dia pergi meninggalkan aku sendiri. Melodi… Melodi… kemana saja kamu, aku merindukanmu.


***

Aku meletakan penaku, setelah menyelesaikan kata terakhir  dalam diariku. Kemudian  manatap langit-langit kamarku. Kembali bayangan Melodi datang menghantuiku. Ya Tuhan, aku benar-benar merindukanya.
 
Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Rupanya ada sms masuk.

Untuk Reza sahabatku,
Ini aku Melodi. Maaf lama tak menghubungimu. Aku ingin bertemu denganmu di taman sekolah kita sore ini juga, kuharap kedatanganmu sobat…”

Melodi…?? Ada apa ia mengajakku bertemu?.

***


 Sore ini indah sekali. Apalagi saat aku melihat kembali perempuan itu terduduk manis di bangku taman. Perempuan yang sampai saat ini masih kucintai. Ya, Melodi. Dia cantik sekali sore ini. Apalagi dengan balutan kerudung hijau yang menyinari wajahnya, aku baru menyadari kalau dia lebih cantik ketika memakai kerudung. 
 

“Melodi…” panggil ku singkat. Melodi kemudian membalikan tubuhnya, menoleh kearahku. 

“Reza…” jawab Melodi sambil melempar senyuman kepadaku. 

"Mel, kemana saja kamu. Kamu itu egois ya. Pergi tanpa pamit!” Bentakku tanpa basa-basi. Melodi terdiam sejenak. Menundukkan kepalanya. 

“Memang itu tujuanku bertemu denganmu, aku ingin meminta maaf kepadamu!” 

“Apa…?? Maaf?? Semudah itu kau meminta maaf, sedangkan aku kau tinggalkan sendiri disini, kamu memang sudah banyak berubah Mel!” Jawabku agak kasar.

“Berubah apa maksudmu!” Jawabnya tak kalah keras dengan suaraku 

“Kerudung itu, kenapa kau memakai kerudung..?? Apa kau sudah kemasukan doktrin-doktrin islam radikal itu hah..??”  Bentakku. 

Melodi menggeleng. Terdiam sejenak, kemudian mengambil dua buah permen dari sakunya. Membuka bungkus salah satu permen itu lalu menjatuhkanya ke tanah. 

“Apa yang kau lakukan?” Bentakku  

“Kalau sudah begini permen mana yang akan kau ambil?” Tanya Melodi lembut. 

“Tentu yang masih ada bungkusnya lah!” Jawabku.

Melodi tersenyum. Kemudian melihat ke arahku. 

“Ya, seperti itulah Islam memperlakukan perempuan. Aku ingin dimuliakan, layaknya permen itu!. Kau tahu kenapa permen itu dimuliakan? Tentu karena bungkus itu. Bungkus itu yang membuatnya mulia. Aku pun sama, aku ingin mulia. Dan kerudung inilah yang membuatku mulia. Bukan seperti permen tanpa bungkus yang kau acuhkan itu!” Terang Melodi.

Aku terdiam sejenak. Terpesona oleh jawabannya.

“Lalu, apa maksudmu memutuskan hubungan kita dahulu? Kau tahu kan kalau aku masih mencintaimu?”

Melodi tersenyum lagi. Kemudian mengambil permen itu.

“Kau lihat permen ini? Aku membeli permen ini di toko itu, kemudian baru aku memakan dan menikmatinya.” Katanya sambil menunjuk sebuah toko.

“Lalu?”

“Aku juga ingin seperti itu. Bukan seenaknya mengambil permen itu, menikmatinya, kemudian baru membayarnya!. Aku ingin kau nikahi terlebih dahulu!” Kata Melodi sambil menaruh permen itu di telapak tanganku.

“Bukankah itu lebih manis?” Sambung Melodi sambil melempar senyuman ke arahku kemudian beranjak pergi.

Aku terdiam, lama. Ya, dia benar.

“Melodi…!!” Teriakku.

Tapi tak ada sahutan, Melodi sudah terlanjur jauh, tubuhnya hilang tertutup pepohonan.

Aku terdiam, menatap permen itu dalam-dalam. 

“Tentu, aku akan menjadi kekasih halalmu pada saatnya, nanti” kataku lirih.


*Penulis adalah aktifis MUHASSHOLA Al-Falahiyah


0 Komentar