Semak Belukar



Sejak pagi tadi, Abshor masih saja termenung di daun pintu ruang tamu pondok dengan tas besarnya. Matanya sesekali melirik kesana kemari, mencari seseorang. Sudah belasan orang menyapa dan menanyakan apa yang dia lakukan, tapi ia masih juga terdiam dan tak mau menjawab.

“Abaah…” tiba-tiba saja ia melonjak dan berlari penuh kegirangan, kemudian memeluk seseorang berbadan tegap dan berpakaian rapi di hadapannya. Rupanya, ia adalah ayahnya.

“Awakmu iki kenapa toh le, minta pulang segala..?” Ucap ayahnya sambil duduk di hadapan Abshor dan mengelus rambutnya.

“Kulo mboten kerasan, Bah. Pengen dirumah saja,” ucapnya dengan mulut bergetar hingga mengeluarkan air mata. Ayahnya kemudian memeluknya hangat, menenangkan hatinya yang rapuh.

“Yowis… ayo pulang!” Ucap ayahnya sambil tersenyum dan menggendong Abshor ke atas motor, memakai helm, lalu menjalankan motornya dengan perlahan.

“Bah, kita mau kemana?” Ucap Abshor polos sambil melihat ke kanan kiri jalan. Rupanya jalan ini terasa asing baginya, ini bukan jalan yang biasanya ia lewati untuk menuju rumah.

“Nah, sudah sampai…” ucap ayahnya sambil mematikan motor dan membuka helmnya. Ayahnya lalu berdiri di hadapan semak belukar, kemudian memanggil Abshor untuk mendekatinya.

“Bah, kita dimana?” Ucap Abshor sambil menarik-narik lengan ayahnya.

“Le, coba kamu lihat semak-semak itu. Semak-semak itulah yang menjadi saksi perjuangan Abahmu ini untuk menuntut ilmu,” ucap ayahnya dengan mata berkaca-kaca sambil menunjuk ke semak belukar yang ada di hadapannya. Abshor melihat semak itu dengan serius, kemudian mendengarkan apa yang diceritakan ayahnya tentang kehidupan masa lalunya.

***

Matahari baru saja muncul. Namun, seorang bocah sudah sibuk mengayuh sepeda bututnya dengan penuh kepastian, melewati semak belukar yang ada dihadapannya sambil membawa beberapa bungkus kerupuk dan jajanan yang tergantung di atas sepedanya. Ia terburu-buru. Sesekali ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya dengan tangan kanan dan juga air mata yang mulai menetes dari matanya. Ah, rupanya matanya juga ikut basah. Ia masih teringat perkataan kakaknya dirumah, beberapa hari kemarin.

***

“Buat apa toh awakmu mondok?” Bentak kakaknya yang masih sibuk menyapu rumah. Baru saja ia mau angkat bicara, kakaknya sudah membentak lagi.

“Mending kamu dirumah saja, bantu masmu ini. Mau jadi apa kamu mondok le? Jadi ustadz? Guru ngaji? Penghasilannya sedikit!. Mendingan kamu kerja saja, cari duit seng akeh. Lagian siapa yang mau biayai kamu mondok? Apa kamu gak lihat bapakmu yang sudah tua?” Bentak kakaknya beruntun. Ia kemudian terdiam, merenung. Kemudian memandang ayahnya yang terduduk lesu diatas kursi, tak berdaya. Kakaknya benar juga, tapi hasratnya untuk menuntut ilmu sudah sangat besar.

***

Bocah itu masih saja mengayuh sepedanya dengan pasti dan penuh keteguhan, perlahan air matanya sudah mulai pudar. Ia yakin, apa yang telah ia pilih adalah keputusan yang benar. Sebentar lagi ia sampai ke tempat yang ia tuju.

***

“Paijo yakin apa yang Paijo pilih ini benar Mas. Biar Paijo sendiri yang mencari biaya untuk mondok. Paijo ingin menjadi orang yang mengerti agama, Mas. Paijo ingin bisa mendoakan dan membimbing Ayah dan Mas menuju jalan yang benar dan diridhoi gusti Allah. Urusan rizki, biar Allah seng ngatur.” Ucapnya mantap. Ia kemudian merengkak ke hadapan orangtuanya.

“Bah, Jenengan ngizini Kulo mondok toh?” Ucapnya memelas. Tangan lembut ayahnya kemudian membelai rambut Paijo, matanya berkaca-kaca. Ia salut akan keteguhan dan kemantapan anaknya. Ia sudah tak mampu lagi berkata, hanya anggukan kepala yang mengisyaratkan akan persetujuannya.

Paijo kemudian berlari menuju kamarnya, membawa bekal seadanya, lalu bersalaman kepada ayahnya.

“Doakan Paijo agar bisa menjadi anak yang sukses dan diridhoi Allah, Bah.” Paijo lalu bergegas menaiki sepeda dan meninggalkan rumahnya dengan berat hati.

“Eh… nyangdi kowe…” Ucap kakaknya berusaha menghentikan. Paijo masih saja bersikikuh memancal sepedanya.

“Oo cah geladur. Di kandani wong tuwo gak ngandel!” Umpat kakaknya yang sudah mulai terdengar samar di telinga Paijo.

***

Hari sudah mulai panas, kaki Paijo sudah mulai kelelahan. Tapi untungnya, tempat ia tuju sudah di depan mata. “Pondok Pesantren Al-Huda”, begitulah yang tertulis di plang kokoh yang berdiri di hadapannya saat ini. Ia tersenyum, kemudian memasuki pintu gerbang pesantren itu dengan pasti. Sepedanya lalu terhenti di depan sebuah warung kecil yang dikerumuni beberapa santri. Beberapa santri menyapanya, dan Paijo hanya membalasnya dengan senyuman. Ia turun dari sepeda bututnya, memarkirkan sepedanya, membawa kerupuk dan jajanannya, lalu berjalan mendekati warung itu dengan terburu-buru.

“Pak, iki saya titip kerupuk dan jajanannya. Yang kemarin habis berapa?” Ucapnya ramah.

“Oh, dek Paijo toh. Alhamdulillah dek, kerupuknya laku semua. Ini uangnya.” Ucap penjaga warung itu senang.

Oh, Alhamdulillah kalau begitu. Terimakasih Pak, saya mau ngaji dulu!” Ucapnya sambil mengambil uang yang diberikan penjaga warung itu, kemudian bergegas menaiki sepeda dan mengayuhnya dengan terburu-buru.

“Cepet dek, Pak Kiai baru saja rawuh.” Ucap penjaga warung itu turut menyemangati.

***

“Berarti Abah dulu tidak ada yang mendukung mondok dan tidak punya biaya sama sekali?” Abshor bertanya kepada Paijo, ayahnya.

“Iya, Le. Dulu Abah berjuang mati-matian untuk bisa mondok. Abah tetap belajar di pesantren walaupun dengan keterbatasan biaya.” Ucap Paijo meyakinkan. Abshor kemudian mengangguk-ngangguk polos.

Setelah sampai di depan surau, Paijo langsung memarkirkan sepedanya seadanya, kemudian berlari memasuki surau dengan tergesa-gesa. Untung saja Kiai baru di rawuh, jadi hari ini ia bisa memulai pengajiannya lebih awal.

***

“Sudah sore Le, ayo kita pulang.” Ajak Paijo kepada anak semata wayangnya sambil memakai helmnya dan mulai menaiki motornya.

“Ayo, Bah.” Ucap Abshor sambil menaiki motornya. Tak lama kemudian, suasana pedesaan di samping bengawan mulai menyuguhi mata mereka. Ah, ini dia tempat yang Abshor rindukan sejak kemarin. Mata kecilnya memandangi setiap detilnya dengan teliti, hingga ia menemukan sosok yang ia kenal.

“Pak De Tejoooo…” teriak Abshor sambil melambai-lambai kepada seseorang diatas perahu.

“Bah, berhenti disini Bah. Abshor pengen ketemu Pak De.” Ucapnya sambil turun dari atas motor dan berlari menuju pamannya. Paijo lebih memilih untuk menjaga sepedanya.

“Hei Abshor, ayo sini naik perahu sama Pak De.” Sambut pamannya. Abshor kemudian menaiki perahu pamannya dengan hati-hati.

“Kamu kok pulang, wis libur tah pondoknya.” Tanya pamannya.

“Mboten Pak De, Abshor gak kerasan.” Ucapnya memelas.

“Loh kok gak kerasan?. Kamu harus mondok tenanan. Kamu tahu tidak, dulu abahmu itu Pak De larang mondok. Tapi dia tetap kukuh dan nekat pergi mondok meskipun tanpa biaya. Hasilnya, liat sekarang, Abahmu jadi ustadz dan pengusaha sukses. Diajeni masyarakat, dibutuhkan orang banyak. Tidak seperti Pak De yang cuma tukang perahu ini.” Kenang pamannya. Abshor masih saja tertunduk dan terdiam.

“Le, lanang itu kudu kuat memegang prinsipnya meskipun diterpa banyak cobaan. Semangat Le! Pak De mau kamu jadi orang sukses, lebih sukses dari Abahmu. Ayo sekarang kamu teriak dan berjanji akan membanggakan Pak Demu ini.” Ucap pamannya meyakinkan. Abshor mengangguk sambil tersenyum, lalu mengacungkan kepalan tangannya ke atas.

“Abshor berjanji akan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan membanggakan Pak De dan Abah!” Teriaknya penuh semangat. Mata Tejo berkaca-kaca, ia peluk keponakannya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Paijo hanya tersenyum penuh haru, melihat kemesraan mereka dari jauh sambil sesekali menyeka air matanya yang sudah mulai menetes.

Jum’at, 30 September 2016

0 Komentar