Setiap saat-saat seperti
ini, di tempat yang sama, dia pasti selalu seperti itu. Duduk bersila di pojok
kamar dengan putaran tasbih di tangannya. Mulutnya tak pernah berhenti berkomat-kamit
bershalawat kepada Sang Baginda Alam, Muhammad Saw. Meskipun aku tahu, perutnya
tak pernah berhenti meraung. Kelaparan, meminta makan. Baginya, membaca
shalawat saja sudah cukup membuatnya kenyang. Ia sangat meyakini apa yang
dikatakan oleh Kyai ketika ngaji sore setahun yang lalu: “Sholawat iku
sifate adem, iso dadekno wetengmu wareg. Bedo karo dzikir lan moco Qur’an sing
sifate panas, iku iso nyebabno wetengmu lapar1”. Entahlah, aku
sendiri sudah mencobanya dan ternyata perutku masih saja lapar. Mungkin, karena
hatiku yang terlalu kotor.
Entah kenapa Allah selalu
menyembunyikan rahasia di balik semua peristiwa. Membuat semua yang tak layak
di tanyakan menjadi suatu hal yang ingin sekali ditanyakan. Mengapa Allah tidak
memudahkan rezekinya? Padahal setiap hari ia tak pernah ketinggalan Salat
Dhuha. Padahal setiap sore, ia tak pernah lupa membaca surat al-Waqi’ah. Berbeda
dengan diriku yang selalu menyepelekan amalan-amalan sunnah itu. Tapi kenapa
Allah selalu memberikan kemudahan rezeki untukku? Mengapa Allah memperlakukan
sebaliknya kepada dia? Bukankah Allah menjanjikan lancarnya rizki dengan
amalan-amalan itu?. Tapi segera kutepis pertanyaan konyol itu dan kujawab
sendiri: Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Jika saat ini ia
kesulitan, aku yakin suatu saat ia akan mendapat kesuksesan dan harta berlimpah.
Sudah
tiga hari ini ia berpuasa, itupun buka dengan nasi seadanya dan tanpa sahur.
Dan hal seperti itu bukan hanya terjadi saat ini saja. Hampir setiap minggu ia
seperti itu. Aku bukan teman yang tak peduli, jelas aku tidak mungkin diam saja
melihatnya kelaparan. Tapi, setiap apapun yang aku tawarkan ia selalu menolak.
Katanya, ia tak mau tangannya berada dibawah, apalagi sampai menyusahkan orang
lain. Suatu hal luar biasa yang ia miliki, yang aku rasa tidak akan dimiliki oleh
siapapun. Seorang anak yang membutuhkan, tapi tak mau dianggap rendah. Bahkan,
uang jajan yang mungkin hanya sepertiga dari uang jajanku setiap bulannya,
selalu ia sisihkan untuk bersedekah. Sedangkan aku selalu lupa, atau mungkin
pura-pura lupa.
Namanya Muhammad Rizqi. Nama yang bagus, dan
mengandung arti luar biasa. Muhammad sebagai bentuk tabarrukan dengan Sang Baginda Alam. Dan Rizqi yang berarti penghidupan.
Mungkin bagi orangtuanya yang hanya buruh cuci, dia adalah salah satu harta
yang paling berharga bagi kehidupan keluarganya. Sehingga ia akan lebih
berharga apabila ia mencari ilmu agama, dan kemudian menjadi pewaris para Nabi.
Mungkin itulah alasan orangtuanya memberinya nama Muhammad Rizqi dan
memondokannya di pesantren ini. Aku yakin ia akan menjadi orang luar biasa dan
dibutuhkan untuk kehidupan banyak orang, seperti namanya. Sudah tiga tahun aku
mengenalnya, dan aku masih ingat saat ketika pertama kali aku mengenalnya dan
mengaguminya.
***
Sebuah pesawat kertas melayang
diatas kepalaku. Membuat mataku yang sedari tadi disibukkan dengan pulpen dan
kertas, beralih memandangnya.
“Haha... pesawatnya mendarat
sempurna.” Teriak seorang anak sambil mendekati pesawat kertas yang jatuh di
hadapanku.
“Kamu ngapain. Itu tuh buang-buang
kertas, mubadzir!” Ucapku mengingatkannya.
“Cuma satu kok!. Lagipula pesawat
kertas ini adalah motivasiku. Kalau aku bosan dan merasa tidak kerasan,
biasanya aku membuat pesawat kertas ini dan menerbangkannya!” Ucapnya dengan
santai.
“Kok bisa?” Tanyaku sambil menaruh
pulpen dan beralih menyimaknya.
“Pesawat kertas ini ibarat hidupku
dan hidup semua manusia. Bermula dari kertas kosong yang penuh kepolosan dan
tidak berarti. Tapi setelah melewati lipatan lika-liku kehidupan yang beragam,
semua menjadi berarti. Tergantung bagaimana ia melewatinya. Dengan penuh
kesabaran dan ketelitian, ataukah dengan tergesa-gesa dan gegabah. Jika ia
melewatinya dengan penuh kesabaran dan ketelitian, maka ia akan terbang
mencapai impiannya dengan pendaratan yang sempurna. Namun jika sebaliknya, maka
ia tidak akan sampai kepada impiannya dengan sempurna. Malah terombang-ambing
angin dan terjatuh ke tempat yang salah.” Katanya sambil memegang pesawat itu
dan menerbangkannya kembali. Aku terdiam kagum.
“Memang apa impianmu?” Tanyaku.
“Menjadi hamba-Nya yang shaleh dan
menjadi Ulama, pewaris para Nabi.” Katanya mantap. Aku mengangguk dan tersenyum
melihat tingkahnya.
“Nama kamu siapa?” Ucapku sambil
menjulurkan tanganku.
“Muhammad Rizqi.” Jawabnya sambil
bersalaman denganku.
***
“Sudah selesai, Riz?” Tanyaku memecah
kesunyian.
“Sudah, Rif. Mau
persiapan, bentar lagi kan ngaji!” Jawabnya sambil melipat sajadah yang dari
tadi menjadi alas duduknya.
“Oh, ayo
berangkat bareng”
“Ayo!” Ucapnya sambil mengambil
kertas di kotak bukunya, kemudian melipatnya
menjadi pesawat kertas. Lalu menerbangkannya.
“Kamu
ada
masalah, Riz?
Kalau memang kamu butuh apa-apa ngomong dong. Biasa aja!” Tanyaku sambil
berjalan bersamanya.
“Kok kamu tahu?” Tanyanya.
“Ya tau lah, kalau kamu menerbangkan pesawat kertas itu tandanya kamu
sedang bosan dan gak kerasan. Ia kan?”
“Nggak,
Rif. Gak ada apa-apa. Cuma sudah tiga bulan ini ibuku gak ngirim, aku jadi
khawatir. Tapi kalau aku nelpon, aku takut ibuku terganggu dan menganggapku butuh
kiriman. Padahal aku masih ada tabungan bulan-bulan kemarin.” Balasnya.
Aku
mengangguk paham. Rizqi adalah anak yatim, jadi dalam keluarganya ibunyalah
yang menjadi tulang punggung. Selain harus membiayai Rizqi, ia juga harus
membiayai dua adiknya yang sama-sama mondok di Pesantren lain di kotanya. Jadi,
wajar jika ibunya mengiriminya dengan biaya seadanya. Tapi jika tidak dikirim
uang sampai tiga bulan, rasanya sangat janggal.
“Ooh.
Kalau begitu mah gak papa Riz, telepon aja. Lagipula kamu kan hanya ingin
memastikan kabar Ibumu. Nanti kalau sudah tau kabarnya, kamu tinggal beritahu
Ibumu tentang keadaan kamu.” Tuturku memberi solusi.
“Mmmm…
ya udah, makasih Rif. Nanti saya coba.” Jawabnya.
***
Sudah
tiga hari ini wajahnya tidak terlihat. Semenjak menelpon ibunya tiga hari yang
lalu, ia sudah tidak di kamar lagi. Katanya ia pulang kerumah, ibunya sakit dan
tetangganya menyuruh ia pulang untuk merawatnya. Adik-adiknya jelas tidak bisa
diandalkan, mereka masih terlalu kecil. Aku, hanya bisa berdo’a akan kesembuhan
ibunya. Dan berharap bisa belajar bersama lagi dengannya.
Tiba-tiba
pintu kamar terbuka pelan, dan Rizki berada di depannya. Kali ini dengan wajah
yang pilu dan isak tangis di matanya.
“Syarif...” Rizqi memanggil namaku dan
memegang erat kedua pundakku.
“Maaf,
aku harus mendahuluimu dan melepaskan impian kita. Ibuku meninggal dan mau tak
mau akulah yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Adik-adikku harus tetap
mengaji dan melanjutkan impian mereka. Tak apa aku kesusahan mencari harta,
tapi mereka harus mencari ilmu. Mereka harus menjadi ulama, pewaris para Nabi!”.
Tuturnya, diiringi isak tangis dan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Setelah
ia selesai berkemas, ia membuat pesawat kertas dan menerbangkannya untuk yang
kesekian kali. Kemudian ia langsung menyalamiku dan memelukku erat.
“Selamat
tinggal kawan, lanjutkan impianku untuk menjadi pewaris Nabi. Kau adalah salah satu orang
beruntung yang diberi kefahaman ilmu agama dan diinginkan Allah untuk menjadi
baik. Kau adalah salah satu orang yang diberi kemudahan rezeki, dan aku yakin kau
tidak akan bernasib sama sepertiku. Lanjutkan perjuanganmu dan buatlah akhir landasan yang indah dalam sejarah
hidupmu.” Katanya sambil meninggalkanku.
Aku hanya
bisa terdiam pilu melepas kepergiannya. Kini tak akan ada lagi pesawat
kertasnya yang memotivasiku, tak akan ada lagi komat-kamit shalawat yang terdengar dari
mulutnya di sudut kamar setiap waktu. Di sisi lain hatiku bersyukur kepada Sang
Maha Kuasa, masih diberi kesempatan dan kemudahan untuk mencari ilmu agama.
Pesawat kertas buatannya mendarat pelan dihadapanku. Dengan sempurna.
“Kawan, jika memang itulah takdir Allah yang ditentukan untukmu, maka
terimalah lika-liku takdir yang telah ditentukan dengan sepenuh hati dan
berusahalah untuk tetap menjadi hamba-Nya
yang saleh. Seperti yang dahulu pernah kau katakan. Aku yakin, kau akan menemukan
akhir landasan hidup yang sempurna dan menjadi orang luar biasa.“ Ucapku dalam
hati.
Untuk kawan-kawanku yang sudah
mendahuluiku.
Tetaplah menjadi seorang santri, meskipun
takdir berkata lain.
1 Sholawat itu sifatnya sejuk, bisa menjadikan
perutmu kenyang. Beda dengan dzikir dan membaca Qur’an yang sifatnya panas,
bisa menyebabkan perutmu lapar.

0 Komentar