Entah
kenapa membaca menjadi suatu hal yang tabu di kalangan kita. Sebagian dari
teman-teman santri pasti mengakui bahwa membaca adalah suatu hal yang
membosankan. Kalau bukan karena ada ujian, atau disuruh oleh guru, mana mau
kita membaca. Mungkin untuk sekedar membaca tulisan ini saja, Anda masih harus
memaksakan diri.
Kadang
penulis merasa miris melihat santri yang lebih memilih membuang waktunya untuk cangkruk
daripada berkunjung ke perpustakaan yang sepi pengunjung. Padahal, bukankah
dawuh Allah yang pertama kali disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah
perintah membaca?. Mengutip ucapan Agus M. Zahid Hasbullah, membaca adalah
perantara kita untuk mendapatkan ilmu. Sebagaimana dalam lima ayat pertama yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw, disana disebutkan dua kali lafal Iqro’ dan
tiga kali lafal yang musytaq dari masdar ilmu; yakni dua kali lafal ‘allama,
dan satu lafal ya’lam. Dari sana dapat disimpulkan bahwa kita akan
mendapatkan faidah ilmu yang lebih banyak dari apa yang kita baca.
Lalu,
kenapa kita masih diam saja? Bukankah kita adalah calon pewaris para nabi?.
Lalu kenapa kita masih enggan untuk sekedar menyempatkan waktu kita untuk
membaca barang selembar dua lembar. Toh, ilmu yang akan kita dapatkan akan
lebih dari itu dan kembali kepada diri kita sendiri.
Penulis
masih ingat dawuh K.H. Ubaidillah Faqih saat pembukaan pengajian kitab al-washoya
an-naafi’ah pada hari Rabu, 13 Januari 2016 lalu. Saking pentingnya membaca, beliau sampai
menyuruh kita untuk membaca (mutholaah) kembali apa yang diajikan pada
waktu itu, minimal tiga kali sehari—dengan harapan semoga Allah memberi
barokah kepada kita atas ilmu yang kita pelajari tersebut. Namun buktinya,
masih banyak teman-teman yang tidak mengamalkan hal tersebut. Alasannya sama:
malas, membosankan. Penulis setuju dengan alasan itu, karena penulis sendiri
merasakannya. Suatu perbuatan yang baik tidak bisa dirasakan nikmatnya seketika
itu. Perlu niat yang sungguh dan pembiasaan agar kita bisa melakukan semua itu
tanpa rasa terbebani.
Contohnya
saja ketika kita pertama kali mondok, yang kita rasakan pertama kali tentunya
adalah keberatan dan sedih. Tapi toh, setelah membiasakan diri dan adaptasi
sedikit demi sedikit, kita mulai bisa kerasan dan merasakan nikmatnya mondok.
Contoh pembiasaan lain adalah: ketika kita dibacakan surat an-Nisaa’ dan
al-Waaqi’ah oleh seseorang dan disuruh untuk meneruskan. Tentu
kebanyakan dari kita akan diam ketika dusuruh untuk meneruskan surat an-Nisa
karena kita tidak biasa membaca ataupun mendengarkannya, tapi
sebagian dari kita akan dengan mudah meneruskan al-Waaqi’ah karena
mereka biasa membacanya dan sebagian yang lain akan terdiam karena tidak biasa
membacanya.
Nah,
melihat contoh diatas sepertinya yang kita butuhkan dalam membaca hanyalah
pembiasaan. Jika kita merasakan sulit di awalnya, itu adalah hal yang biasa.
Tahan dan jalani saja, lama-lama juga kita akan terbiasa sendiri dan merasakan
nikmatnya membaca. Mengutip sebuah peribahasa: “Buku adalah gudangnya ilmu, dan
membaca adalah kuncinya”. Wallahu a’lam.

0 Komentar