Melangkahkan kaki berarti
memberanikan diri, menempuh jalan yang terkadang sebelumnya belum pernah
dilalui.
Maka melangkah tak selalu
berakhir indah. Ada kalanya melangkah membuat kita kehilangan arah.
Yah, meskipun semua itu
tergantung kemana kaki kita melangkah.
Beranikanlah kakimu untuk
melangkah menuju jalan yang tak diridhai, maka setelah itu, jangan harap kau
akan dapat kembali.
Langkah pertama
coba-coba.
Langkah kedua penasaran.
Langkah ketiga tidak
takut.
Langkah keempat terbiasa.
Langkah kelima ketagihan.
Langkah keenam acuh.
Ini berlaku untuk langkah
kaki kita dalam setiap peraturan. Mulai agama, pesantren, sekolah, bahkan
negara.
Jika langkah kita mulai
terhenti, terkadang hati berontak untuk kembali.
Namun ternyata, kembali
tak semudah pergi. Langkah sudah terlanjur jauh, jejak sudah jelas tertancap
dan kaki sudah malas kembali. Hingga akhirnya, hanya tinggal penyesalan di
hati.
Bisa saja kita kembali.
Tapi harus dengan memaksa diri.
Sebaliknya, beranikanlah
kakimu untuk melangkah menuju jalan yang dicintai. Maka anehnya, meski sudah
jauh melangkahkan kaki, dengan mudahnya diri ini kembali.
Langkah membuat kita
dilema.
Seperti dawuh Rasulullah
tentang domba peliharaan yang dipelihara di sekitar rumput terlarang,
sebenarnya kita hanya harus berhati-hati dalam melangkah.
Diam dan jangan mendekat jika ingin selamat, atau
pergi dan masuklah jika ingin tersesat.

0 Komentar