Untuk kesekian kalinya kupandangi
lambaran kertas tak berguna itu. Ah, penat sekali rasanya. Ditambah udara panas
Kota Cirebon dan sesaknya mobil angkot yang aku naiki. Kalau bukan karena takut
orangtuaku menanggung malu, mana mungkin aku mau repot-repot seperti ini!.
Setelah menerima kertas yang bernama “Ijazah” sebulan yang lalu ini, semua seakan menjadi tuntutan. Kalau tidak mau kuliah, ya harus kerja. Kalau tidak kedua-duanya, ya tinggal menjadi pengangguran dan menanggung malu. Entah siapa yang pertama kali membuat hukum seperti itu.
Kata orang-orang kertas ini bukan
kertas biasa. Kertas ini adalah kertas sakti. Bisa membuat kita terhormat, kaya, dan dibutuhkan orang banyak. Ah, entah
benar atau tidak. Buktinya semenjak dua minggu yang lalu hingga saat ini aku
belum juga mendapatkan modal dari semua itu. Kerja saja belum dapat, bagaimana
aku bisa mendapatkan semua yang dijanjikan itu?. Semenjak dua minggu yang lalu,
sudah lebih dari lima lembaga yang aku datangi. Tapi toh, setelah interview
yang aku jalani dengan susah payah dengan bermodal kertas ini. Tak ada satupun
dari mereka yang menerimaku. Malah uangku yang terkuras habis untuk
transportasi bolak-balik kesana kemari. Lantas, bagaimana aku bisa terhormat,
kaya, dan dibutuhkan orang-orang kalau seperti ini?.
Sebenarnya aku bisa saja menyodorkan kertas ini ke perguruan-perguruan tinggi di sekitar kotaku. Tapi alasan biaya yang membuatku tidak bisa melakukannya. Yang aku bayangkan bukan hanya besarnya biaya pendaftaran, tapi juga biaya transportasi dan administrasi lain yang pasti dibutuhkan ketika kuliah. Aku tak mau merepotkan kedua orangtuaku. Lagi pula seandainya ada biaya, kemungkinan diterima sangatlah sedikit. Bayangkan, di tahun ini aku harus bersaing dengan ratusan peserta lain dalam ujian SBMPTN. Dan yang diterima hanya tiga puluhan orang saja per-universitas.
Aku terdiam dan menatap keramaian Kota Cirebon. Kemudian mengusap keringat dan mengipas-ngipaskan tubuhku dengan map yang membungkus kertas itu. Lama-lama aku jadi gusar juga. Pikiranku mulai negatif dan pesimis: Lebih baik aku menganggur dirumah saja, tidak terhormat dan miskin sekalian daripada diberi harapan palsu dan direpotkan oleh kertas ini.
Sebenarnya aku bisa saja menyodorkan kertas ini ke perguruan-perguruan tinggi di sekitar kotaku. Tapi alasan biaya yang membuatku tidak bisa melakukannya. Yang aku bayangkan bukan hanya besarnya biaya pendaftaran, tapi juga biaya transportasi dan administrasi lain yang pasti dibutuhkan ketika kuliah. Aku tak mau merepotkan kedua orangtuaku. Lagi pula seandainya ada biaya, kemungkinan diterima sangatlah sedikit. Bayangkan, di tahun ini aku harus bersaing dengan ratusan peserta lain dalam ujian SBMPTN. Dan yang diterima hanya tiga puluhan orang saja per-universitas.
Aku terdiam dan menatap keramaian Kota Cirebon. Kemudian mengusap keringat dan mengipas-ngipaskan tubuhku dengan map yang membungkus kertas itu. Lama-lama aku jadi gusar juga. Pikiranku mulai negatif dan pesimis: Lebih baik aku menganggur dirumah saja, tidak terhormat dan miskin sekalian daripada diberi harapan palsu dan direpotkan oleh kertas ini.
***
“Kiri, Bang!” aku menghentikan mobil angkot itu segera. Gara-gara kecapaian, aku tidur dan kebablasan jauh dari rumahku.
“Berapa?” tanyaku.
“Pitungewu” jawab supir angkot.
“Mahal banget bang! Biasanya juga goceng” sanggahku.
“Goceng mah di Plumbon! Udah cepet bayar!” bentaknya.
“Iya, bang!” sahutku sambil memberikan uang tujuh ribuan. Ah, ludes sudah uangku. Sekarang aku hanya punya modal jalan kaki dan uang tiga ribuan untuk sampai rumah. Apalagi jaraknya beberapa kilo. Ditambah panasnya Kota Cirebon yang luar biasa.
Tak lama kemudian, azan Asar berkumandang. Mengajak seluruh umat islam untuk segera bergegas menuju rumah-Nya dan mengerjakan sholat berjemaah. Sedangkan aku masih berjalan dengan gontai dan bermandikan peluh. Hingga aku duduk di sebuah warung kecil di pinggir masjid dan merebahkan badanku penuh kelelahan.
“Es kelapa satu, Bang!” pesanku.
Penjual itu langsung menyiapkan pesananku dengan segera dan tak lama kemudian es itu sudah habis kuminum dengan rakus. Segar sekali. Untung aku masih mempunyai uang tiga ribu, sehingga aku bisa menghilangkan dahagaku sambil menunggu jama’ah dimulai.
Tak lama kemudian, muncul sebuah mobil bermerek Fortuner parkir di halaman masjid. Kemudian seseorang yang bersurban, berjubah dan berpeci putih keluar dari dalamnya penuh wibawa. Yang lebih mengagetkan, orang-orang yang sedari tadi lalu lalang di sekitar masjid tersebut langsung berdiri mematung, memberinya jalan dan menyalaminya satu persatu. Aku tercengang keheranan. Begitu terhormat dan berwibawanya dia.
“Siapa itu bang?” Tanyaku pada tukang es.
“Oh itu, itu pak Kiai Zahid. Dia imam di masjid ini sekaligus pengasuh pondok Al-Hidayah di desa sebelah.”
“Ooh” Aku mengangguk-ngangguk.
“Makasih bang, ini uangnya” Sahutku sambil memberikan uang tiga ribuan dan bergegas mengambil wudu. Ikamah dikumandangkan kemudian salat berjemaah dilaksanakan. Sedangkan hatiku masih dipenuhi rasa kagum dan penasaran. Aku jadi ingin mengenalnya lebih dekat.
***
“Jadi Kiai dapet semua ini tanpa sekolah?” tanyaku keheranan.
“Iya, setelah saya lulus SD saya langsung mondok selama 7 tahun. Dan belum pernah mencicipi bangku sekolah umum semenjak itu. Tapi toh walaupun begitu, buktinya saya mempunyai ijazah. Dulu di pondok saya ikut paket B dan paket C. Setelah selesai mondok saya mendaftar kuliah, itupun hanya ikut ujian semester dan wisuda. Alhamdulillah, Allah memudahkan semuanya. Bagi saya sendiri ijazah itu hanya formalitas. Agar saya disegani masyarakat dan dapat mengembangkan dakwah tanpa rasa dikucilkan. Bagaimana bisa mengembangkan dakwah jika tokohnya saja ditertawakan zaman?” Tuturnya.
“Lalu, Kiai sekarang kerja apa sampai bisa kaya seperti ini?”
“Saya hanya mengajar di pondok. Penghasilan saya paling hanya dari kantin dan koperasi santri. Itu juga sebagian untuk pembangunan pondok” jawabnya.
“Mohon maaf, Kiai. Dari kantin dan koperasi pondok bisa membuat rumah dan mobil semewah ini? Masa Kiai ga ada pekerjaan sampingan lain?” tanyaku penasaran.
“Min haitsu laa yahtasib. Allah akan memberikan rizki kepada orang-orang yang memperjuangkan agama-Nya dari jalan yang tidak disangka-sangka” Katanya sambil tersenyum.
Aku terdiam penuh kekaguman. Ternyata ada yang lebih sakti dari ijazah ini: Mencari ilmu agama dan memperjuangkan agama Allah. Kaya, terhormat, dan dibutuhkan orang banyak buktinya sudah aku lihat didepan mata. Lalu kenapa aku masih kebingungan dan kecapaian mencari kerja untuk mendapatkan itu semua?. Azan Magrib mulai terdengar dan aku tersadar dari lamunanku.
“Ayo dek, diminum. Setelah itu kita langsung ke masjid untuk berjemaah” kata Kiai Zahid sambil meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Aku tersenyum dan langsung meminum habis teh yang disuguhi Kiai Zahid. Setelah itu aku mengambil tasku dan membuka map yang berisi ijazah itu untuk kesekian kalinya.
“Ayo, dek!” kata Kiai Zahid mengajakku untuk segera ke masjid.
“Ee… anu Kiai”
“Ada apa?” sahutnya.
“Maaf Kiai, daripada saya kerepotan melamar kerja tidak jelas kesana kemari, lebih baik saya melamar mondok disini saja.” ucapku sambil menyodorkan Ijazah itu dengan tersenyum.
“Alhamdulillah” Jawab Kiai Zahid sambil membalas senyumanku dan mengambil kertas sakti itu.
Penulis amatir dari Kota Angin, Majalengka

0 Komentar