Hikayat Kupu-Kupu




"Kupu-kupu ini tidak akan pergi sebelum dia pulang, kawan,” teriak Sahrul keras. Suara lantangnya membuat seisi kelas beralih memandangnya.

“Kalian tahu kenapa? Kupu-kupu ini datang karena kita kedatangan tamu istimewa!” Lanjutnya, lagi. Kali ini ia menunjuk seseorang yang sejak beberapa menit lalu terduduk di bangku paling belakang dan bertingkah aneh: tertawa-tawa sendiri, kemudian tertunduk, mengusap air mata yang kadang terjatuh dari matanya, lalu tertawa-tawa lagi.

Tak banyak yang menghiraukan Sahrul, apalagi kupu-kupu itu. Kebanyakan teman-teman kelas lebih memilih memperhatikan dan menertawakan tingkah si Unyil, orang yang bertingkah aneh di bangku belakang tadi.

Sedangkan aku hanya tersenyum-senyum sendiri di depan. Tersenyum karena melihat tingkah aneh si Unyil, tersenyum karena melihat tawa bahagia teman-teman kelas dan tentunya juga karena tingkah lucu si Sahrul yang berusaha mencari perhatian dengan mengibaratkan si Unyil dengan Kupu-kupu yang datang kebetulan itu. Lagi pula, siapa juga yang akan percaya dengan hal tahayyul seperti itu?.

 

Musyawarah malam ini ‘terpaksa’ tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pastinya gara-gara kedatangan si Unyil itu. Semangat musyawarah teman-teman kelas sudah hilang sejak lima belas menit yang lalu. Tepatnya saat melihat Zulkifli yang tiba-tiba berjingkrak-jingkrak di depan pintu kelas dan menyanyikan lagu Thola’al Badru, seakan kedatangan tamu istimewa. Saat itu seisi kelas bingung, menduga-duga siapa yang datang. Yang jelas, pastinya tidak akan ada yang menduga bahwa orang yang datang itu adalah asatidz. Mana berani Zulkifli berjingkrak-jingkrak seperti itu di depan asatidz.


Dan ternyata, setelah sosok yang disambut itu sampai di daun pintu, seisi kelas kaget bukan kepalang. Si Unyil, orang berprinsip aneh yang pergi tanpa pamit enam bulan yang lalu itu kembali. Menyalami kami satu persatu dari depan sampai belakang, sambil cengengesan dan berjalan seperti anak baru sunatan. Ah, meski enam bulan berlalu, ternyata ia masih saja dengan gaya konyolnya.

***

“Pegang omonganku! Kalau Allah menghendaki aku mati gara-gara meminum madu ini, maka cepat atau lambat aku akan mati. Tapi kalau tidak, berarti rasa takut mati kalian terhadap madu ini salah. Bismillaahirrahmaanirrahiim.” Ucapnya sambil meminum madu botolan kadaluarsa yang ditemukan anak-anak di pojok kelas pagi tadi.

Kejadian itulah yang membuat aku mengaguminya untuk pertama kali. Aku tak menyangka, dibalik tingkah gila yang ia tampakkan, ia memiliki tekad dan prinsip yang kukuh. Saiful yang menantang anak-anak kelas untuk meminum madu kadaluarsa itu pun, geleng-geleng keheranan. Hanya si Unyil yang berani melakukannya, sampai habis pula.

Beruntung Allah masih menghendakinya untuk hidup. Madu itu tak mempan sama sekali terhadap tubuhnya. Ia tetap hidup sehat, segar bugar, dan bertingkah gila seperti biasanya.

Fajrul Ulum, itu nama aslinya. Entah sejak kapan orang-orang memanggilnya si Unyil. Mungkin karena wajahnya yang mirip si Unyil, atau mungkin karena tingkah anehnya. Ah, entahlah, itu tak penting. Bagiku, lebih asyik menyimak tingkah-tingkah aneh dalam kekuatan tekad dan prinsipnya.

Salah satunya adalah ketika OSIS sekolah kami mengadakan seminar Tajhizul Mayyit. Saat itu, panitia kebingungan mencari orang yang mau dijadikan contoh mayat untuk praktik nanti. Masalahnya, saat seminar Tajhizul Mayyit tahun lalu—secara kebetulan, orang yang dijadikan contoh mayat, meninggal beberapa minggu setelahnya. Wajar saja jika kemudian santri-santri tidak ada yang mau. Berbeda dengan si Unyil, saat mendengar hal itu, ia malah semangat tidak keruan.

“Akan aku buktikan, akan aku buktikan!” Ucapnya semangat.

Dan benar saja, selepas seminar itu, tak ada yang terjadi dengan tubuhnya. Ia tetap hidup, dan tentunya bertingkah gila seperti biasanya. Meski sayangnya, beberapa bulan kemudian, tingkah gilanya mulai jarang kami lihat lagi. Pikirannya dihinggapi keraguan. Kali ini prinsip gilanya bertentangan dengan hati nurani.

“Aku ingin membuktikan, kalau apa yang dikatakan orang-orang salah. Aku yakin, meski dengan ilmu agamaku yang baru seumur jagung, aku tetap bisa hidup kuat memegang teguh iman, walaupun hidup dalam kerasnya dunia luar. Camkan itu. Hahaha!” Ucapnya sesumbar di hadapan teman-teman kelas sambil beranjak pergi, tertawa-tawa dan berjalan seperti Charlie Caplin.

Teman-teman kelas menggeleng penuh keheranan. Apalagi yang akan di lakukan anak ini? Mungkinkah prinsip dan tekad gilanya itu akan membuatnya tega meninggalkan pondok yang telah mendidiknya selama tiga tahun ini. Bukankah ia sendiri yang pernah bilang kalau ia pergi mondok karena ingin agar kedua orangtuanya masuk surga?. Apalagi, ilmunya masih jauh dari kata cukup. Akan sangat sulit baginya untuk mempertahankan iman dan akidah di luar sana. Santri yang sudah mondok lima atau enam tahun lebih pun, belum tentu bisa. Mencegahnya? Ah, percuma saja. Tekadnya kuat sekuat baja. Tak akan ada yang bisa menghentikannya kecuali dirinya sendiri.

Dan ternyata, benar saja. Beberapa hari selanjutnya, bangku di pojok belakang kelas itu benar-benar kosong. Ia benar-benar pergi. Pergi dengan prinsip, tekad, dan kelakuan anehnya.

***

“Dari mana saja kamu enam bulan ini?. Masih ingat dengan teman-teman yang kamu tinggal tanpa pamit ini, hah?” Ucap Zulkifli memulai, menghentikan tingkah anehnya yang menangis dan tertawa bergantian.

Belakangan, aku akhirnya tahu bahwa tingkah anehnya itu didasari berbagai alasan. Di satu sisi, ia senang bisa bertemu kami dan menginjakkan kaki kembali di pondok yang mendidik rohaninya itu. Namun di sisi lain, terkadang ia juga sedih ketika mengingat kenangan-kenangan indah bersama kami dan enam bulan yang ia buang sia-sia.

“Masih lah, Fli. Aku masih waras, kok. Hehehe, ” ucapnya cengengesan.

“Aku pergi jauh, Fli. Kemana-mana. Keliling Indonesia.” Lanjutnya serius sambil mendongakkan kepalanya ke atas dan memejamkan mata. Menyatukan satu persatu kenangan yang mengisi memorinya selama enam bulan belakangan.

Demi mendengar hal itu, teman-teman kelas mengerubunginya satu-persatu. Penasaran.

“Paling jauh?” Tanyaku.

“Medan. Tanpa bekal cukup, tanpa pengetahuan banyak. Hidupku pontang-panting, kawan,” kenangnya.

Teman-teman kelas mulai menyimaknya serius.

“Aku pernah menjadi kuli bangunan, menjadi penjaga warung. Apapun, asalkan aku bisa terus menyambung hidup. Agar aku bisa terus menambah tabungan pahalaku untuk menggapai surga-Nya. Tapi hidup di luar memang keras, kawan. Lebih keras dari yang kalian bayangkan,” ucapnya serius.

“Aku pernah diperbudak, bekerja dari pagi sampai malam, berhari-hari. Tapi hasilnya, aku ditipu. Majikanku pergi tanpa jejak dan aku tidak dibayar sepeser pun. Percaya atau tidak, aku mengalaminya sendiri. Di luar sana, tanpa pengetahuan banyak, kalian akan dengan mudahnya dibodohi.” Ia menghela napas.

“Sebenarnya, ada lebih banyak lagi cerita miris yang aku alami, tapi itu tak seberapa penting buat kalian. Ada yang lebih penting!” Lanjutnya sambil memelototi wajah kami satu persatu.

“Di luar sana, aku menemukan dunia yang gelap. Di tempat itu, bukan kau yang mendatangi maksiat, kawan. Tapi maksiat yang mendatangimu. Perempuan melambai-lambai di depan rumahmu. Minuman keras dan obat-obatan terlarang sudah menjadi makanan dan minuman sehari-hari.”

“Jadi, kamu sudah terjerumus ke dalam dunia itu. Minum minuman keras, mengonsumsi obat-obatan, berzina?” Tanyaku penasaran. Aku mulai berprasangka buruk. Rupanya prinsipnya tak sekuat yang kukira.

“Tentu tidak, kawan. Hanya hampir. Aku masih waras!. Apa gunanya aku mondok tiga tahun kalau dengan mudahnya terjerumus ke dalam dunia setan itu. Aku hanya bercerita, mengingatkan kalian yang masih menuntut ilmu di pondok ini. Bersyukurlah kepada Allah yang telah memberikan kalian anugerah untuk menuntut ilmu di pondok sampai saat ini. Carilah ilmu yang banyak, amalkan, kuatkan iman kalian, ajarkan sebanyak-banyaknya, lalu lawan dunia luar yang gelap itu sekuat tenaga! Akan sulit mempertahankan iman dan akidah kalian yang dangkal di luar sana.” Jawabnya serius.

Seisi kelas terdiam.

“Kalian lihat kupu-kupu itu?” Ucapnya sambil menunjuk kupu-kupu yang sedari tadi terbang mengitari kelas kami.

“Jadilah sepertinya! Bukankah tadinya ia sama seperti kalian? Hanya seekor ulat kecil yang tidak tahu apa-apa, hina dan diinjak-injak manusia. Melalui proses alam, ia menjadi kepompong. Mengurung diri, tafakur, menjauh dari hiruk-pikuk dan kerasnya alam berhari-hari. Sama persis seperti keadaan kalian saat ini. Bersabarlah sampai sayap kalian sempurna, kawan. Agar kalian disukai banyak orang. Agar kalian bisa terbang bebas mengitari dunia tanpa takut akan angin dan rintangan yang menghadang.” Ucapnya sambil berdiri dan melangkah menuju daun pintu. Meninggalkan kami yang terdiam karena terbius oleh ucapannya.

“Kamu akan mondok lagi, kan?” Tanya Sahrul membuyarkan lamunan kami.

“Aku sudah terlanjur menjadi kupu-kupu, kawan. Sayapku memang tidak sempurna, tapi pikiranku sudah terlanjur dihiasi oleh buaian keindahan dunia luar. Akan sulit bagiku untuk kembali menjadi kepompong. Hahaha.” Jawabnya sambil tertawa, lalu pergi meninggalkan kami yang masih merenungi setiap ucapannya. Terdiam seribu bahasa.

Langitan, 05 Februari 2017
Untukmu di luar sana, kawan. Jika tidak bisa kembali menjadi kepompong, maka, apa salahnya menyembunyikan kekurangan sayapmu dengan bergabung bersama kupu-kupu lain?.

0 Komentar