Haul, Bid’ah?



Haul dalam makna aslinya dalah tahun, sedangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), haul berarti peringatan hari wafat seseorang yg diadakan setahun sekali. Sesuai dengan maknanya, haul memang biasanya diadakan untuk mengenang peringatan hari wafat seseorang yang dianggap menjadi panutan atau tokoh masyarakat di daerah tersebut. Di berbagai daerah di Indonesia, haul bukan lagi menjadi perkara yang asing. Sering kita temukan di berbagai daerah peringatan haul seorang habib, kiai, ulama’, atau tokoh lainnya yang diperingati baik oleh sebuah organisasi, pondok pesantren, maupun keluarga.

Haul Bukan Bid’ah

Meskipun sebagian orang mengatakan haul adalah hal yang bid’ah (tidak ada pada zaman Nabi), buktinya dalam sejarah disebutkan bahwa Haul bermula ketika Nabi Muhammad melakukan hijrah ke baqi’ setiap tahunnya untuk memperingati para sahabat yang meninggal saat perang Uhud. Kemudian ritual itu dilanjutkan oleh para sahabat, tabiin, lalu kita sebagai umatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Waqidi:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزور قتلى أحد في كل حول، وإذا لقاهم بالشعب رفع صوته يقول : السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار. وكان أبو بكر يفعل مثل ذلك وكذلك عمر بن الخطاب ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهم. [رواه الواقدي]
Artinya:
“Adalah Rasulullah SAW. berziarah ke makam syuhada’ Uhud pada setiap tahun. Dan ketika beliau sampai di lereng gunung Uhud beliau mengucapkan dengan suara keras ‘semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan’. Kemudian Abu Bakar, Umar bin Khatthab dan Utsman bin ‘Affan juga melakukan seperti tindakan Nabi tersebut”.

Haul dari Masa ke Masa

Sudah menjadi hal yang maklum jika tujuan utama haul adalah memperingati wafatnya seorang tokoh. Maka pengaplikasiannya biasa dilakukan dengan berbagai macam seperti menziarahi makamnya, membacakan Yasin untuknya, membacakan manaqibnya atau yang lain. Meskipun begitu, kini haul berkembang menjadi lebih variatif. Bukan hanya menziarahi makam, kini haul sering diisi dengan ceramah agama, bazaar, pembacaan shalawat, bersedekah atau memberi hidangan orang yang hadir, dan bahkan temu kangen alumni di berbagai pondok. Meskipun begitu semua tetap dengan tujuan baik, dan pahala kebaikan tersebut tentunya dihadiakan kepada sang mayyit. Selain itu juga, dzikir dan amalan baik yang dilakukan oleh para pendatang pada saat haul akan bermanfaat bagi diri mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Imam Baihaqi dan Imam Dailami.

Hadits riwayat Imam Thabrani dan Imam Baihaqi :
ما جلس قوم يذكرون الله تعالى فيقومون حتى يقال لهم قوموا قد غفر الله لكم ذنوبكم وبدلت سيئاتكم حسنات. [رواه الطبراني والبيهقي]

Artinya :
“Tiada suat kaum yang berkumpul dalam satu majelis untuk berdzikir kepada Allah kemudian mereka bubar sehingga diundangkan kepada mereka “bubarlah kamu”, sungguh Allah telah mengampuni dosa-dosamu dan kejahatan-kejahatanmu telah diganti dengan kebaikan-kebaikan”. (HR. Thabarani dan Baihaqi)

Hadits riwayat Imam Dailami :
ذكر الأنبياء من العبادة وذكر الصالحين كفارة، وذكر الموت صدقة، وذكر القبر يقربكم إلى الجنة. [رواه الديلمي] اهـ الجامع الصغير : 158
Artinya :
“Menyebut-nyebut para Nabi itu termasuk ibadah, menyebut-nyebut para shalihin itu bisa menghapus dosa, mengingat kematian itu pahalanya seperti bersedekah dan mengingat alam kubur itu bisa mendekatkan kamu dari surga”. (HR. Dailami)

Intinya, haul adalah acara yang sangat bermanfaat. Selain untuk kebaikan kita juga untuk kebaikan mayyit yang kita hadiahkan pahala sendiri. Maka, jangan pernah ragu untuk melakukan haul karena itu bukanlah hal yang bid’ah. Nabi saja melakukannya, kenapa kita tidak?

0 Komentar