Dzulhijah; Banyak Sunnah, Banyak Barokah




Memasuki bulan Dzulhijjah ini mungkin banyak yang terbayang dalam benak kita. Karena sebagai ummat muslim apalagi santri, mungkin bulan ini adalah salah satu bulan yang ditunggu-tunggu. Selain qurban, puasa sunnah arofah, dan haji dalam bulan ini juga terdapat salah satu hari raya islam yakni Idul Adha. Dzulhijjah juga merupakan bulan terakhir dalam penanggalan hijriyah dan salah satu dari empat bulan yang mulia yang disebut Asyhurul Hurum. Yakni bulan Muharrom, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Oleh karena itu dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah pada bulan ini baik dalam bentuk ritual ataupun sosial.

Dzulhijjah yang Istimewa

Dulhijjah dalam bahasa berarti bulan yang mempunyai (pelaksanaan ibadah) haji atau bulan untuk haji. Walaupun ada sebagian amalan ibadah haji yang dilaksanakan di bulan Dzulqo’dah, tapi mayoritas amalan ibadah haji dikerjakan pada bulan Dzulhijjah. Misalnya Wuquf di Arofah, Mabit di Muzdalifah maupun Mina, melempar jumrah, dan lain-lain.

Dzulhijjah juga merupakan bulan yang istimewa karena bulan ini menghimpun beberapa ibadah yang tidak ada pada bulan lain. Apalagi kalau bukan haji dan qurban. Bulan Dzulhijjah ini juga mengingatkan kita akan Ibadah Haji dan peristiwa yang berhubungan dengan pelaksanaan Haji.

Dimulai dari kisah Nabi Isma’il dan Siti Hajar yang ditinggalkan dalam tanah gersang hingga mereka kehabisan bahan makanan dan kelaparan, Siti Hajar yang rela bolak-balik dari sofa ke marwah untuk mencari air agar anaknya Nabi Isma’il bisa bertahan hidup yang kemudian menjadi asal mula disyari’atkannya Sa’i, Nabi Isma’il yang menangis dan mengeluarkan air yang disebut Zam-Zam ketika memukul-mukulkan kakinya ke tanah, kisah penyembelihan Nabi Isma’il yang dihalangi oleh setan hingga disyariatkannya melempar jumrah, kisah penyembelihan Nabi Isma’il yang digantikan biri-biri sehingga menjadi asal mula disyariatkannya qurban, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il yang membangun ka’bah dan meletakkan hajar aswad di pojok ka’bah, dan kisah-kisah lain yang luar biasa. Inti dari semua cerita ini sama, semuanya adalah tentang kepatuhan dan kesabaran seorang hamba terhadap perintah Allah Swt.

Seperti halnya kisah Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim. Cerita tentang dua hamba Allah yang begitu patuh dan sabar akan perintah-Nya hingga rela mengorbankan nyawanya karena Allah. Tak pernahkah kita bayangkan betapa sabar dan kuatnya Nabi Ibrahim AS yang rela menyembelih anaknya Nabi Isma’il AS demi melaksanakan perintah Allah. Dan betapa patuhnya Nabi Isma’il akan perintah Allah meski harus mengorbankan nyawanya. Tapi toh, atas kesabaran dan kepatuhan mereka Allah menggantikan Nabi Isma’il dengan seekor biri-biri dan menjadikannya syari’at yang dilestarikan sampai saat ini. Intinya, apapun yang diperintahkan Allah, kita lakukan saja dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Karena kita tidak tahu apa yang direncanakan oleh Allah. Allah pasti menginginkan segala yang baik untuk hamba-Nya.

Keutamaan Sembilan Hari Pertama Dzulhijjah

Selain ibadah-ibadah wajib, dalam bulan ini juga dianjurkan melakukan ibadah-ibadah sunnah. Diantaranya adalah puasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah yang hukumnya sunnah muakkad. Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijjah sama dengan  amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari sedangkan pada hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijjah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu. Sehingga amalan tersebut bisa berupa sedekah, membaca Al-Qur’an atau amalan sholih lainnya. Sebagaimana hadits Nabi:

ما من أيام أحب الى الله تعالى أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة. يعدل صيام كل يوم منهابصيام سنة وقيام كل ليلة  منها بقيام ليلة القدر
“Tidak ada hari-hari yang lebih disenangi Allah untuk (digunakan) beribadah kepada-Nya daripada sepuluh hari pertama) pada bulan Dzulhijjah. Puasa setiap hari pada hari-hari tersebut sebanding dengan puasa setahun dan menghidupkan setiap malamnya (qiyamul lail) bagai menghidupkan malam Lailatul Qodar”

Puasa Akhir Tahun

Selain puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah disunnahkan juga puasa pada akhir tahun atau akhir bulan Dzulhijjah. Karena bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang terakhir dalam penanggalan Hijriyyah. Dalam hadits disebutkan:

من  صام اليوم الاخير من ذي الحجة واليوم الأول من المحرم,  فقد ختم السنة الماضية وفتح السنة القابلة بالصوم. وجعل الله له كفارة خمسين سنة.
“Barangsiapa yang berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram maka dia benar-benar mengakhiri tahun yang sudah lewat dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah menjadikan untuknya penebus dosa lima puluh tahun.”

Hari Tarwiyah dan Arofah

Hari Arofah (9 Dzulhijjah) merupakan hari yang penting karena pada hari itu banyak terjadi peristiwa yang baik. Oleh karena itu bukan hanya agama Islam saja yang menganjurkan ummatnya untuk melakukan puasa Arofah tapi agama lain juga seperti Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu Nabi Muhammad juga menganjurkan untuk berpuasa pada hari sebelumnya yang disebut hari Tarwiyah sebagai pembeda antara ummat Islam dengan yang lainnya. Disebutkan dalam hadits:

صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين
“Puasa hari Tarwiyah itu menghapuskan dosa setahun dan puasa hari arafah itu menghapuskan dosa dua tahun”

Salah satu fadhilah puasa Arofah juga adalah menghapus dosa satu tahun yang telah lewat dan satu tahun setelahnya. Selain amalan-amalan sunnah diatas, masih banyak amalan sunnah lain yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah. Jika para pembaca ingin tahu lebih lengkapnya, pembaca bisa mencari sendiri di berbagai buku dan kitab yang ada di pondok kita ini.

Nah, dengan keutamaan, hikmah, dan berbagai kesunnahan dengan fadhilah yang begitu besar dalam Bulan Dzulhijjah ini, kenapa masih berfikir dua kali untuk melakukannya?. Toh, kemanfaatan dari semua itu juga kembali kepada diri kita sendiri. Yuk kita hidupkan hari-hari dalam bulan Dzulhijjah ini dengan niat ikhlas dan karena Allah. Dengan harapan semoga kita mendapatkan surganya Allah. Amin.

Penulis amatir dari kota angin, Majalengka
Dikutip seperlunya dari buku “Hidayah, tuntunan ibadah sunnah 12 bulan”


0 Komentar