Membicarakan
globalisasi dan pesantren seakan membicarakan dua istilah yang berseberangan.
Terdapat paradoks diantara keduanya. Jika pesantren
sering dikaitkan dengan istilah budaya ketimuran dan salaf, maka globalisasi justru
berkaitan dengan westernisasi dan hal-hal yang berbau modern.
Sebenarnya, sejak
kemunculan istilah globalisasi yang dipopulerkan oleh ekonom Theodore Levitt melalui artikelnya yang
berjudul “Globalization of Markets” yang diterbitkan oleh Harvard
Businnes Review pada paruh akhir 1980-an, globalisasi yang berasal
dari kata globalize mengacu pada kemunculan jaringan sistem ekonomi
berskala internasional. Dalam hal ini, tidak ada sangkut paut antara globalisasi
dengan Amerika atau westernisasi. Karena sejatinya, istilah globalisasi
lebih umum dari dua istilah tersebut. Namun karena aktivitas ekonomi Amerika
dan bahkan dunia barat lebih mendominasi, maka globalisasi pun kental dengan
istilah Amerikanisasi dan westernisasi.[1]
Jika
ditilik dari pengertian awal globalisasi sejak pertama kali dikenalkan, sebenarnya
tidak ada dampak negatif yang bahkan dapat mempengaruhi dunia pesantren. Karena
globalisasi dalam arti kontekstual hanya mengarah pada kemajuan sistem ekonomi
dunia yang berarti menghilangkan sekat antar negara-negara di dunia dalam
proses ekonomi baik itu pertukaran barang maupun jasa.
Namun, karena pemikiran, agama, bahasa, kesenian,
dan aspek budaya lainnya menyebar dan bercampur ketika negara-negara bertukar
barang, maka globalisasi kemudian dianggap sebagai suatu ancaman yang bisa mengikis
kelangsungan budaya asli, kearifan lokal dan bahkan eksistensi agama. Apalagi
selanjutnya, dominasi ekonomi yang berada di tangan negara-negara barat kemudian
dimanfaatkan untuk melakukan propaganda yang dilakukan secara masif untuk
mengenalkan ideologi dan gaya hidup mereka dengan memanfaatkan jaringan media
internasional seperti televisi dan internet dalam empat hal yang dikenal dengan
istilah “Empat F” (Food, Film, Fashion, Football).[2]
Begitupun pesantren—yang didalamnya memegang teguh
syariat Islam dan budaya khas timur, awalnya menolak mentah-mentah globalisasi.
Tentu karena adanya paradoksi itu. Namun, setelah melihat berbagai fakta diatas,
pesantren mulai bergerak.
Salah satu strategi pesantren yang sangat kentara
dalam menghadapi arus globalisasi adalah pengembangan dakwah dan SDM santri.
Jika dahulu pesantren lebih mengandalkan lisan dalam berdakwah, kini pesantren
sudah mulai berkembang ke berbagai
ranah media seperti
tulisan dan internet. Salah satunya adalah seperti Pondok Pesantren
Langitan yang sudah melebarkan sayap dakwahnya dengan mendirikan berbagai media
seperti Majalah Langitan, Radio Langitan, Langitan TV di Youtube, dan berbagai
media sosial lainnya.
Tentu semua itu dilakukan karena berangkat dari
kesadaran para kiai dan santri. Jika pesantren terus statis sedangkan gaya
hidup masyarakat dalam bingkai globalisasi terus bergerak, maka tidak menutup
kemungkinan jika pesantren khususnya agama akan mulai ditinggalkan.
Jalan dakwah yang mengikuti metode kekinian—dengan
memanfaatkan media globalisasi sebagai kendaraannya, merupakan salah satu jalan
terbaik untuk menghadapi tantangan globalisasi dan mengajak masyarakat—terutama
para pemuda Islam sebagai generasi penerus—untuk tetap berada dalam rel
keagamaan dan menjaga moralnya.[3]
Tentu semua hal itu juga harus disertai dengan pengembangan
sumber daya santri agar regenerasi terus ada dan media dapat tetap
berjalan dengan baik. Diantaranya seperti mengadakan pelatihan menulis, desain,
broadcasting dan sinematografi.
Namun perlu digarisbawahi, semangat perubahan itu
juga tentunya harus disertai dengan semangat menjaga ciri khas kesalafan,
akhlak, dan kearifan syariat yang menjadi identitas pondok pesantren.
Sebagaimana maqolah yang
terkenal di kalangan Nahdlatul Ulama: المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلاح
(mempertahankan tradisi yang baik dan mengambil pembaruan yang konstruktif). Agar
pesantren dapat terus menjaga keautentikannya ditengah perkembangan zaman.
Intinya, globalisasi sebagai sebuah tantangan zaman
harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai justru sebaliknya: pesantren
kehilangan kesakralannya dan ikut terkena dampak negatif globalisasi. Na’udzubillahi
min dzalik.
[1] Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi.
Conversi mengklaim pada tahun 2010 bahwa globalisasi lebih didorong oleh arus
aktivitas budaya dan ekonomi dari Amerika Serikat yang lebih dikenal sebagai Amerikanisasi atau westernisasi.
[2] Lebih lengkap dapat dilihat di https://faruqtheopposition.wordpress.com/2016/10/23/globalisasi-dan-santri/
[3] Data kepolisian menyebutkan bahwa tingkat
kenakalan remaja pada tahun 2017 jauh meningkat pesat yakni 20% dibanding tahun
sebelumnya. Lebih lengkap lihat di https://www.wonosobozone.com/angka-kenakalan-remaja-meningkat-20/

0 Komentar