“Kalau liburannya sepuluh hari, berarti
malesnya sepuluh hari.” Begitu kurang lebih kata-kata yang sering terlontar
dari para santri. Lucu memang, tapi terkadang ada benarnya juga.
Rasa bebas yang masih membekas ketika
liburan memang tak mudah untuk dihilangkan. Apalagi tak sedikit santri yang terlambat
kembali ke pondok. Tentu kata-kata itu seolah menjadi pegangan: “Tambah lama
liburnya berarti tambah lama malesnya”.
Kembali dengan rutinitas dan kepenatan
pondok setelah bersenang-senang di rumah memang tidak semudah membalikan
tangan. Tapi, kata siapa kita tidak bisa?. Buktinya, tidak sedikit yang
langsung ready dengan kegiatan di pondok. Malah lebih baik dari semester
sebelumnya.
Seperti halnya sebuah permainan sepak bola,
liburan ibarat half time. Setelah rasa lelah dan penat yang dialami
selama babak pertama tentu kita membutuhkan waktu istirahat. Dan istirahat
inilah yang harus kita manfaatkan dengan sebaik mungkin, karena waktunya yang
hanya sebentar. Pemain-pemain sepakbola profesional biasanya menggunakan waktu half
time untuk memompa diri, me-reload badan yang kelelahan setelah satu babak
bermain. Hal itu biasa dilakukan dengan minum misalnya, makan, atau pemanasan-pemanasan
ringan. Yang tentunya semua itu dlakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik
pada babak berikutnya. Bukan malah dipakai untuk bersenang-senang, hura-hura,
dan hal lain yang menyebabkan waktu terbuang percuma.
Begitupun dengan kita, seperti halnya
seorang pemain sepak bola, kita harus bisa memanfaatkan waktu liburan kita
dengan baik. Yaitu dengan menambah asupan hati kita dengan menambah hafalan
kita misalnya, dan satu lagi yang penting: Dakwah. Susah memang, tapi apa
salahnya mencoba?. Minimal dengan mempertahankan kegiatan di pondok dan melaksanakan
dawuh-dawuh kiyai. Toh, semua itu juga untuk kebaikan diri kita sendiri.
Tak ada salahnya memang jika kita
bersenang-senang dalam liburan. Namun tentu semua itu ada batasnya. Karena
setelah semua itu selesai, kita akan dihadapkan pada babak kedua yang lebih
menantang. Karena, siapa tahu lawan kita punya semangat baru yang lebih besar
dari kita dan siap membuat kita tumbang.
Oleh karena itu yang kita butuhkan adalah
sebuah buah tangan (oleh-oleh) yang kita
bawa dari rumah. Tapi buah tangan disini bukan hanya makanan, jajanan, dan yang
lainnya. Melainkan sebuah semangat baru. Semangat yang akan kita jadikan pegangan untuk berusaha lebih baik dari
babak pertama yang sudah berlalu, dan semangat yang akan kita bawa untuk
menghadapi babak kedua yang lebih menantang.
Jadi mulai sekarang, buang jauh-jauh
kata-kata itu. Dan mulailah babak dua ini dengan semangat baru yang lebih baik
dari sebelumnya.

0 Komentar